Ilmu batin merupakan segi esoteris, yaitu bagian terdalam yang paling rahasia dari kehidupan manusia. Merupakan inti hakikat dari setiap agama dan kepercayaan sejak manusia memiliki kesadarannya. “Siapakah aku ini sebenarnya? Dari mana aku ini datang? Dan akan ke mana pula aku ini nantinya?” Pertanyaan-pertanyaan sekitar ‘diri manusia’ inilah yang kemudian mendorong timbulnya pemikiran yang lebih khusus dan mendalam sifatnya.

Ilmu Batin Jawa Dengan Agama - Hakikat Ilmu Batin Yang Sesungguhnya

Dalam ilmu sepuh masalah asal dan tujuan manusia ini disebut sangkan paran. Karena pokok permasalahannya mengenai diri manusia, maka sudah tentu pembahasannya pun dipusatkan pada ‘rahasia-rahasia’ diri pribadi. Manusia dituntut untuk ‘melihat’ ke kedalaman dirinya sendiri, mengamati secara seksama pada hal-hal yang dalam, terselubung, dan samar. Bukankah batin itu merupakan bagian ‘terdalam’ dari diri manusia? Batin juga dapat disamakan dengan jiwa terdalarn yang paling rahasia, itulah qalbu (hati sanubari).

Karena objeknya menyangkut hal-hal yang samar, terselubung, dan rahasia, maka setiap orang yang ingin menyelidiki atau memahami ilmu batin terlebih dulu harus percaya kepada yang gaib. Tanpa mempercayai hal-hal yang gaib mustahil kita dapat menyentuh sasaran, yaitu makna dari hakikat yang sebenar-benarnya. Selama ini orang mengotak-atik mencoba mengupas ilmu batin hanya dari sisi luamya saja. Mereka meneropong hanya dari segi kulitnya, bukan pada sumbemya yang benar. Akibatnya timbul asumsi yang salah, bahkan cenderung menyesatkan.

Termasuk  ilmu batin yang cenderung dianggap sebagai bagian sesat tersebut.

Memahami Pengertian Ilmu Batin Yang Sebenarnya

Pengertian ilmu batin yang beredar di kalangan orang awam menggiring pada definisi sebagai ilmu gaib, klenik, tahayul, bahkan ada yang menuduh berbau Magis Hitam tempatnya tukang sihir dan tenung.

Ilmu Batin Jawa Dengan Agama - Hakikat Ilmu Batin Yang Sesungguhnya

Padahal di setiap agama sebetulnya ada ilmu batinnya, cuma kita tidak pemah mengakui secara jujur. Jauh sebelum agama diakui sebagai aturan formal yang menjadi panutan, ilmu batin itu sendiri sudah lama hidup dan berkembang. Sebelum datang dalil-dalil dogmatis yang mengikat perilaku kehidupan manusia, leluhur-Ieluhur manusia di zaman silam justru telah menggali nilai-nilai (aturan) sendiri.

Bagi mereka yang mengerti ilmu batin pasti mengakui bahwa semua agama itu ternyata mengandung nilai-nilai hakiki ajaran terdalam. Dan nilai-nilai ajaran terdalarn ini anehnya tidak berubah maknanya walaupun telah lewat ratusan abad.

Zaman boleh berganti dan setiap kurun waktu tertentu seorang nabi telah datang membawa wahyu dari Tuhan, namun inti maknanya tetap sama. Di sinilah keistimewaan kebenaran ‘ilmu batin’ itu. Memang benar firman Tuhan itu kekal dan bersifat tetap, artinya tidak berubah oleh lingkungan, keadaan, atau pengaruh luar lainnya. Sayang sekali hanya sedikit manusia yang bisa mengerti rahasia ini. Yang ada pada umumnya hanya meyakini kebenaran yang tersurat tapi belum memahami apa yang tersirat.

Ada Yang Mengartikan Ilmu Batin Sebagai Mistik

Ada yang mengartikan ilmu batin sebagai mistik. Hal ini perlu dibahas terlebih dulu agar tidak mengacaukan pengertian yang sesungguhnya. Istilah mistik itu sendiri muncul di Eropa (Barat), dengan demikian perkembangan dan penelaahan terhadap istilah tersebut dilihat juga dari sudut pandang perspektif Barat.

Ilmu Batin Jawa Dengan Agama - Hakikat Ilmu Batin Yang Sesungguhnya

Mistik berasal dari kata Yunani kuno yang berarti menutup mata, menutup mulut, dan menyembunyikan. Pada akhirnya mistik berarti yang tersembunyi dan yang mengandung rahasia. Bandingkan dengan istilah Ilmu Batin yang berarti pengetahuan terdalam yang tersembunyi, karena kata batin itu sendiri artinya ‘bagian terdalam, yang tersembunyi’.

Ilmu Batin Dalam Rahasia Agama

Pada zaman pra agama Kristiani, istilah mistik ini sudah dipakai oleh segolongan umat yang melaksanakan ritual keagamaan secara rahasia (mysteri religions).

Pengertiannya masih terbatas pada ‘upacara-upacara ibadah yang bersifat rahasia’, belum mengacu kepada pengertian ajaran esoteris. Kemudian seiring dengan kemajuan zaman istilah mistik itu pun mengalami perubahan makna dan tergantung pada konotasi yang diberikan.

Ilmu Batin Jawa Dengan Agama - Hakikat Ilmu Batin Yang Sesungguhnya

Ada yang cenderung menempatkan makna religius yang bersifat doktrinal, ada yang memberi makna magis, okultisme, dan hipnotisme. Ada yang menghubungkan mistik dengan spiritualisme, yaitu pengetahuan tentang:

  1. Ajaran yang beriktikad bahwa ‘kenyataan’ yang sesungguhnya adalah spirit (ruh).
  2. 5ebagai ajaran yang berpandangan idealistik.
  3. Religius yang menekankan pengaruh langsung dari holy spirit (ruh suci menurut paham teologi Kristiani).
  4. Kepercayaan yang mengatakan bahwa ruh orang mati dapat berhubungan dengan orang yang masih hidup melalui seorang medium (perantara). Istilah populernya disebut spiritisme.

Di samping itu masih banyak pula pendapat lain, misalnya ada yang menganggap mistik sebagai cara berpikir yang rumit bahkan kacau dan tidak masuk akal (irrasional).

Ketika timbul reaksi terhadap ketidakefektifan agama yang lebih menitik beratkan pada aspek lahiriah, di kalangan agama muncul gerakan yang menyeru pada pendalaman ajaran yang sebenar-benarnya, bukan hanya terpaku pada simbol-simbol, melainkan menggali intisari pengetahuan yang bersifat esoterik.

Dari sinilah mistik kemudian berkembang semakin luas dan mencapai tingkat yang lebih tinggi (kesempurnaan). Dalam tataran mistik puncak kesempurnaan itu berarti suatu penghayatan spiritual religi yang dipenuhi rasa cinta (intim), dan penuh keharuan akan adanya ‘realitas absolut’ yang penuh rahasia.

Istilah mistiknya menurut teologi Kristiani disebut Gnosis, yaitu tingkat kemanunggalan (pengenalan dengan Tuhan tanpa melalui persepsi dan rasio). Bagi golongan mistik Islam, istilah yang dipakai adalah ‘Makrifat’. Pada dasamya ada 3 (tiga) tingkat untuk mencapai kesempurnaan itu:

  1. Bagi mereka yang baru belajar harus melewati tingkat ‘penyucian’. Segala ego, nafsu, dan penyakit hati yang lain seperti iri, dengki, dendam, takabur, dan emosi harus ditanggalkan. Pada taraf penyucian ini, seorang mistikus benar-benar digembleng lahir dan batin. Mungkin tingkat ini dapat disejajarkan dengan ‘Tarekat’ , menurut mistik Islam.
  2. Kemudian setelah berjalan sampai pada tingkat pertengahan, seorang mistikus akan memperoleh kesadaran mutlak, itulah ‘pencerahan’. Taraf ini di dalam mistik Islam disebut ‘Hakikat’, sementara pada ilmu batin Jawa dapat disejajarkan dengan tataran Kasukman.
  3. Akhirnya seorang mistikus yang telah berhasil mencapai kesempurnaan, atas rahmat dan ridha Tuhan, berhasil manunggal (union mystic). Tingkat tertinggi ini di dalam mistik Islam disebut ‘Makrifat’ atau ‘Tauhid’. Sedang istilah ilmu batin Jawa, tingkat kesempurnaan ini dinamakan Kasepuhan.

Tokoh sufi al-Ghazali melukiskan keadaan rahasia manusia melihat (makrifat) ketauhidan Tuhan. Dapat dikatakan bahwa ‘jalan’ menuju kesempurnaan itu harus melewati tingkat ‘makrifat’ seperti di bawah ini:

”Mistikus (si pencari kebenaran) tersebut tidak melihat sesuatu pun di dalam eksistensi ini kecuali Ilahi Allah. Para Sufi menyebutnya sebagai [ana fi al-tauhid Oebur ke dalam keesaan). Artinya jika seseorang itu telah fana, di mana ia tidak ‘melihat’ sesuatu pun selain Allah, maka ia tidak melihat dirinya sendiri. Dan apabila ia tidak melihat dirinya sendiri karena takjub ‘melihat’ keesaan Allah, maka si mistikus itu tidak sadar diri (fana) dalam ‘memandang’ keesaan tersebut. Jelasnya lagi, ia tidak sadar akan ‘pemandangan’ baik terhadap dirinya sendiri, maupun segala sesuatu yang diciptakan Allah. Yang’ ada’ hanya Allah.”

Di dalam ilmu batin Jawa, tingkat ini dapat diartikan dengan ‘jalan kelepasan’ atau pamudaran. Kita dapat menghubungkan tali yang seolah merentang antara tingkat kesempurnaan Mistik Islam dengan Mistik Jawa, keduanya sama-sama terbagi dalam 4 (empat) tataran Mistik Islam yaitu:

  1. Syariat.
  2. Tarekat.
  3. Hakikat.
  4. Makrifat.

Tataran Mistik Jawa:

  1. Sembah Raga.
  2. Sembah Cipta.
  3. Sembah Jiwa.
  4. Sembah Rasa.

Seorangtokoh ilmu batin, sekaligus guru besar ilmu kasepuhan mengatakan bahwa tingkatan ilmu-ilmu kasampurnan itu juga terbagi dalam empat (4) tataran, yaitu:

  1. Kanuragan.
  2. Madya Sepuh.
  3. Kasukman.
  4. Kasepuhan.

Akhir dari perjalanan panjang seorang mistikus adalah persatuan dengan llahi (mistical union) atau dalam istilah Mistik Jawa disebut jumbuhing kawula lan Gusti, manunggaling kawula Ian Gusti pamoring kawula Ian Gusti jejering kawula Ian Gusti warangka manjing curiga, dan masih banyak ungkapan yang mempunyai perlambang khusus (simbolis).

 

Mistik yang bersifat religius

Mistik yang bersifat religius ini tumbuh pertama kali eli negara-negara Timur dengan menitikberatkan pada aspek batin, rasa, dan keaslian. Sejarah telah mencatat, bahwa sepanjang perjalanan manusia sejak zaman silam hingga kini pun agama tidak dapat mengalahkan 100% adat budaya setempat.

Agama-agama berkembang dan menyatu dengan warna dan nafas asli setempat, oleh sebab itu kita dapat menyaksikan keanekaragaman corak keagamaan di berbagai negara yang memiliki kultur berbeda.

Ilmu Batin Jawa Dengan Agama - Hakikat Ilmu Batin Yang Sesungguhnya

Sementara mistik religius yang tumbuh dan berkembang di Barat, banyak dipengaruhi aliran filsafat Neo Platonisme yang memiliki konsep bahwa Tuhan adalah transenden secara mutlak, tidak terjangkau olehI rasio manusia Namun membuka kemungkinan bagi setiap orang yang berhasrat dapat bertemu Tuhan, lewat suatu jalan pencerahan hati untuk mencapai mystical union.

Namun konotasi mistik menurut perspektif Barat tidaklah sama menurut pengertian mistik Timur. Pandangan mistik yang bersifat religius lebih menonjol pada aliran-aliran Sufi (mistik Islam), Upanishad (mistik Hindu), Hinayana dan Tantrayana (mistik Budha), Taoisme (mistik di Cina), dan Zen (mistik. di Jepang). Walau ada pula pendapat yang membedakan mistik-mistik di Timur itu dengan mengklasifikasikan wama dan nafasnya sebagai:

  1. Mistik Monotheistik.
  2. Mistik Polytheistik.
  3. Mistik Pantheistik.
  4. Mistik Naturalistik.
  5. Mistik Atheistik.

Interpretasi yang berbeda dalam penggolongan mistik di Timur ini hanyalah hasil liputan para peneliti (pengamat) Barat yang tidak dapat dipegang kebenarannya. Mereka hanya meneropong dari ‘jauh’, di luar lingkup kehidupan mistik itu sendiri. Tentu saja hal ini merupakan suatu pandangan atau pengetahuan yang terbatas, karena informasi seringkali hanya diambil dari buku-buku referensi, bukan langsung terjun ke lapangan.

Seorang tokoh ilmu batin mengatakan bahwa perbedaan di antara mistik-mistik itu hanyalah terletak pada ‘jalan’ yang ditempuh oleh masing-masing aliran. Pada dasarnya tujuan pokok tentang penghayatan ‘kemanunggalan’ Tuhan (ada yang memakai istilah the ultimate truth atau the absolute being) memiliki persamaan arti.

Oleh sebab itu menuduh seseorang sebagai penganut mistik pantheistik, atheistik, dan sebagainya itu kurang bijaksana. Sebab orang ‘luar’ hanya berkomentar menurut persepsi subyektifitas padahal hanya si mistikus (pencari kebenaran) pribadi itulah yang mengerti hakikat sebenarnya.

Para Mistikus Religius Dan Peyakin Ilmu Batin Sejati Secara Tegas Menolak Magisme (Black Magic)

Para mistikus religius dan peyakin ilmu batin sejati secara tegas menolak magisme (terutama black magic). Istilah ilmu batin juga disebut ilmu karang dan para pengamat Barat menamakan ilmu sihir.Ilmu inilah sebetulnya yang menimbulkan kesalah pahaman di kalangan orang awam.

Segolongan ahli agama yang fanatik buta lantas tergesa-gesa mencurigai ilmu batin dan bahkan ada yang langsung menuduh bid’ ah dan musyrik. Sayang sekali pengetahuan tentapg ilmu batin yang benar masih belum banyak yang tahu dan mengerti.

Ilmu karang (black magic) ini sejak zaman silam telah ditolak dan dijauhi oleh mistikus Jawa. Sebab ilmu seperti ini tidak memiliki tujuan untuk mencapai Tuhan, lagipula ‘kekuatan gaib’ yang dihasilkan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Mangkunegara IV (1809-1881) di dalam Serat Wedhatama mengungkapkan demikian:

Kekerane ngelmu karang, kakarangan saking bangsaning gaib, iku boreh pamini pun. Tan rumasuk ing jasad, amung aneng sejabaning daging, kulup. Yen kepengkok pancabaya, ubayane mbalenjani.

Arti bebasnya:

“Rahasianya ilmu karang, adalah hasil upaya dari sesuatu yang gaib, hal itu diumpamakan dengan bedak (yang menempel di bagian luar saja). Tidak sampai merasuk ke dalam tubuh, hanya ada di luar daging, anakku. Dan apabila bertemu dengan berbagai bahaya, janjinya akan meleset (tak dapat diandalkan).”

Yang jelas ilmu karang itu merupakan hal gaib yang diperolehnya bukan dari Tuhan. Seorang tokoh ilmu batin mengatakan, bahwa gaib itu ada banyak jumlahnya di dunia ini, barangkali ada beribu-ribu macam gaib.

Tetapi gaib dari Allah itu hanya ‘satu’ dan itulah yang dimiliki oleh para mistikus religius dan ahli ilmu batin sejati. Namun demikian, gaib yang satu (Gaib Allah) itu dalam realisasinya terbagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu:

  1. Gaib yang dianugerahkan kepada para rasul, elisebut ‘Mukjizat’.
  2. Gaib yang dianugerahkan kepada para suci, wali, disebut ‘Karamah atau Keramat’.

Keduanya merupakan anugerah Gaib Allah dan hanya terlaksana atas kehendak Tuhan. Karena kita membicarakan derajat manusia sempurna (bukan rasul) , maka Gaib Allah yang hendak kita bahas ini adalah gaib keramat.

Pengetahuan keramat ini merupakan ‘kelebihan-kelebihan’ (misalnya kesaktian, kewaskitaan, dhawuh-dhawuh, makrifat, dan sebagainya) yang dimiliki oleh hamba-hamba Allah yang terpilih dan terkasih.

Batasan Magis Putih Atau Magis Hitam

Pengertian tentang batasan magis putih atau magis hitam ini pun masih sulit diterima oleh kalangan awam, yang cenderung mencampuradukkan dengan magis. Hal ini ada kaitannya dengan keterbatasan pengetahuan dan informasi yang dimiliki mengenai sumber kekuatan gaib. Pengetahuan tradisional yang beredar di kalangan awam menyebutkan adanya pembagian sumber kekuatan gaib.

  1. Magis putih, kekuatan gaibnya bersumber dari malaikat atau pada tingkat yang lebih rendah bersumber pada ruh suci.
  2. Magis hitam, kekuatan gaibnya bersumber dari setan atau pada tingkat yang lebih rendah bersumber pada ruh jahat.

Padahal pembagian semacam itu menurut para ahli ilmu batin, jelas salah. Ada sementara ahli yang mengatakan bahwa hitam atau putih itu tergantung dari oknum yang menguasai ilmu tersebut. Biar pun ilmu itu katanya bersumber dari magis putih, tapi bila digunakan untuk maksud dan tujuan yang merusak dan merugikan orang lain, maka ilmu itu sendiri pantas digolongkan pada black magic.

Sebaliknya pula, ada kalangan ilmu yang dituduh ‘sesat’ (berbau magis hitam) tetapi justru oleh pemiliknya digunakan untuk kebajikan (menolong sesama), maka ‘ilmu demikian’ ini pantas dimasukkan ke dalam jajaran magis putih dan orang tidak perlu terlalu takut atau antipati.

Dalam kenyataan, kita banyak menjumpai peristiwa-peristiwa yang bertolak belakang dengan definisi yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Seorang oknum berilmu batin yang dikenal alim penampilannya, justru menjadi ‘dalang’ tenung atau santet. Siapakah yang percaya? Itulah sulitnya!


Ada dua pengalaman menarik dari sekian banyak peristiwa yang penulis sempat ketahui selama berguru pada seorang tokoh kasepuhan di Ngayogyakarta.


Pertama, beberapa tahun yang lalu datang seorang laki-laki yang bergelar kyai haji dari daerah Banyuwangi. Orang itu sakit parah dan hampir putus asa, karena sudah berobat kemana-mana (baik dokter ahli, paranormal, dukun, dan lain-lainnya) tetapi tetap belum sembuh juga.

Oleh keluarganya dia diantar menghadap guru penulis. Penyakitnya itu memang aneh. Pengobatan medis tidak dapat mengungkapkan penyakitnya, padahal yang bersangkutan sudah lama menderita sakit, ibaratnya seperti pelita yang kehabisan minyak. Setelah ‘dilihat’ oleh guru, temyata penyakitnya itu karena kesalahannya sendiri. Perlu diketahui, pada garis besarnya segala macam penyakit itu terbagi menjadi 3 (tiga) golongan:

  1. Sakit karena kehendak Tuhan.
  2. Sakit karena dibuat oleh orang lain.
  3. Sakit karena kesalahannya sendiri.

Di antara ketiga macam penyakit itu, biasanya yang bisa diobati dengan medis (kedokteran) hanya penyakit biasa pada poin kesatu.

Sementara penyakit pada poin kedua, lebih mudah diobati oleh seorang ahli ilmu batin.

Dan penyakit yang diakibatkan oleh kesalahan diri sendiri, yaitu pada poin ketiga itulah yang justru sulit mengobatinya.

Lanjut pada cerita:

Semula orang yang bersangkutan tidak mau mengakui kesalahannya, barangkali malu kepada keluarganya sendiri atau yang hadir di ruang tamu. Akhimya setelah diajak masuk berdua di kamar khusus guru, orang itu mengaku terus terang atas segala kesalahan pribadinya selama ini.

Seperti melihat fIlm atau video yang diputar di layar, kejadian masa lalu yang pemah dibuatnya terpampang telanjang. Bagaimana mungkin mau ingkar? Sambil menangis terisak orang itu merangkul lutut guru, memohon maaf. Guru menganjurkan agar minta maaf pada diri pribadinya sendiri terlebih dulu, lalu baru mohon ampun kepada Tuhan. Karena Tuhan tidak akan mengampuni seseorang, sebelum orang itu minta maaf kepada yang bersangkutan. Jika seseorang bersalah kepada orang tuanya, dia harus minta maaf kepada kedua orang tuanya terlebih dulu. Demikian pula jika seseorang melakukan kesalahan kepada diri pribadinya sendiri. Setelah dirawat di rumah guru selama kurang lebih seminggu, orang tersebut benar-benar sembuh, sehat lahir dan batin.

Cerita di atas ada hikmahnya bagi kita semua. Bahwa menipu atau membohongi orang itu mudah, tetapi sulit untuk menipu dan membohongi hati nuraninya sendiri. Itulah rahasia daya batin manusia.


Kedua, kurang lebih dua tahun yang lalu, seorang istri pengusaha kaya asal Cirebon, datang menghadap Sesepuh Guru Besar PERPARIN untuk berobat. Kali ini menyangkut ‘sakit yang dibuat oleh manusia jahat’, berupa tenung dan santet kelas tinggi. Si penderita sudah tidak berdaya apa-apa, dari lengan tangannya setiap diurut keluar patahan-patahan silet berkarat yang bercampur darah.

Ilmu Batin Jawa Dengan Agama - Hakikat Ilmu Batin Yang Sesungguhnya

Anehnya setiap disembuhkan oleh Guru, tidak berapa lama kemudian si penderita itu kembali jatuh sakit. Hal demikian terus berulang terjadi. Akhirnya dilakukan ‘pengobatan khusus’ dengan melacak sumber datangnya penyakit kiriman itu. Dan apa yang ditemukan di sana? Ternyata penyakit itu datang dari sebuah lingkungan terkenal dan ‘dukunnya’ seorang yang cukup terkenal pula. Sungguh di luar dugaan, mana mungkin perbuatan jahat yang diancam dosa menakutkan itu dilakukan oleh seseorang yang dalam kehidupan masyarakatnya justru dikenal alim dan terhormat? Mengapa? Masyarakat awam yang belum tahu ‘isi’ orang tersebut pasti tidak akan percaya. Tapi Guru bilang, “Jangan campur adukkan antara ajaran dan oknum yang menyeleweng. Itulah setan yang menguasai manusia lemah imannya.”

Dalam kode etik para sepuh, perbuatan dosa seperti itu ada batasnya. Sekali masih dimaafkan, dua kali masih dimaafkan, tapi setelah ketiga kali masih juga berbuat jahat, maka tidak ada jalan lain kecuali dikembalikan kepada si pengirim. Dan ‘hukuman dunia’ itu cukup mengerikan akibatnya. Si dukun selamat, karena ‘kiriman’ yang dibuatnya sengaja atas nama si pemesan.

Jadi si pemesan itulah yang menanggung akibatnya, mati mengenaskan dan penuh penderitaan. Bagi si dukun sendiri, walau ia bebas dari ‘hukuman dunia’, tapi di akhirat nanti hukuman yang jauh lebih dahsyat akan diterimanya. Itu semu pasti akan terjadi.


Ada pelajaran yang dapat diambil hikmahnya dari cerita di atas. Bahwa segala sesuatu itu benar atau salah, baik atau sesat, ternyata tidak dapat hanya diukur atau dilihat dari ‘merk’, simbol, dan baju luar yang dipakai.

Menentukan jahat atau tidaknya sesuatu ternyata tidak tegantung dari tudingan klise seperti klenik, tahayul, dan sebagainya. Ada hal-hal lain yang perlu kita perhatikan dan kita renungkan, agar kita tidak menjadi orang yang mudah menuduh sesat orang lain.


Semoga kita adalah bagian dari orang-orang yang kuat imannya dan menjadi orang mistikus religius sejati dihadapan Tuhan.

Baca Juga: Meditasi Penyembuhan Ala Pengobatan Paranormal


Jika anda mengalami gangguan gaib/magis/mistik semacam itu konsultasikan aja dengan kami Team PERPARIN melalui:

Call/SMS: 0822 4272 2014 / 0857 2679 2014 (Mbak Ayu)

PIN BB: 56F3B6E7

Email: metafisika103@gmail.com

langsung lewat ‘Live Chat’ yang ada di pojok kiri layar ini.

Atau langsung lewat website di halaman KONSULTASI GRATIS.

Kami akan berusaha memberikan solusi masalah yang anda alami.


Semoga artikel Ilmu Batin Jawa Dengan Agama – Hakikat Ilmu Batin Yang Sesungguhnya dari pengobatan paranormal bermanfaat bagi anda, jika anda merasa artikel ini bermanfaat please share di media sosial anda agar semua orang mendapatkan manfaat positif dari artikel ini. 🙂

959 total views, 1 views today